Warga Kawangkoan Keluhkan Penataan Relokasi Pekuburan

Airmadidi (6/2) CK RSR - Sejumlah warga Desa Kawangkoan Kecamatan Kalawat Minahasa Utara mengeluhkan proses penataan relokasi kurang lebih 600 pekuburan yang nantinya akan dilewati oleh proyek jalan tol Manado - Bitung.

Pasalnya, sempat beredar di media sosial Facebook yang membandingkan proses relokasi pekuburan yang sangat jauh beda antara Desa Kawangkoan dan Desa Kawangkoan Baru.

Menurut Margaretha Tampah yang merupakan warga Desa Kawangkoan, seharusnya pemerintah lebih peka dan bijaksana dalam preses relokasi ini karena menyangkut dari jasad seorang manusia.

"Kami sebagai ahli waris menyayangkan penataan dalam relokasi ini. Kami mengharapkan penataan yang lebih bagus, jangan seperti kuburan masal korban bencana alam" ucap Margaretha yang merupakan anak dari mantan perangkat desa, almarhum Wentrik Tampah. 

Margaretha juga menyayangkan kurangnya koordinasi antara pantitia relokasi dengan para ahli waris.

"Sebelum proses relokasi pekuburan ada sosialisasi. Justru pada saat pembayaran tidak ada sosialisasi atau pemberitahuan. Keluarga juga diminta tanda tangan kwitansi tanpa ada nominal pembayaran, hanya dicantumkan nama" tukas Margaretha.

Terpisah, Hukum Tua Desa Kawangkoan Paulus Kodong saat dihubungi via telepon belum bisa memberikan keterangan karena sedang ada urusan di pengadilan dan menyarankan untuk menghubungi Ketua panitia relokasi Bhayangkara Montori.

Menurut Montori, prosedur yang dilakukan sudah jelas. Mengenai perbedaan cara relokasi di tempat lain, Montori mengungkapkan bahwa itu karena ahli waris menyiapkan dana pribadi untuk melengkapi relokasi pekuburan.

"Tidak ada namanya menandatangani kwitansi tanpa nominal, semua tertera jelas dan sesuai prosedur. Hal seperti ini pasti ada yang suka dan tidak suka. Harus di tanggapi dengan kepala dingin" ujar Montori yang ditemui saat proses relokasi.(Yofian)