Gelar Adat Pemindahan Cagar Budaya Waruga Airmadidi

Airmadidi, 1/2 (CK RSR) - Masyarakat dan pemerintah melalui ormas adat Mapatu menggelar upacara Adat Tonsea pemindahan Waruga di Area Mata Air Maklentuay atau Kumelembuay (dalam bahasa Tounsea artinya Air muncrat dari tanah, sekarang disebut Airmadidi), di Kelurahan Airmadidi Bawah, Rabu (31/1).

Prosesi pemindahan waruga itupun ditandai ritual adat dengan mengelilingi sejumlah lokasi yang diyakini sebagai leluhur, yang saat ini merupakan objek wisata budaya yang ada di Airmadidi bawah dan kelurahan Raprap, Kecamatan Airmadidi.

"Pemindahan waruga dilakukan bukan karena kemauan kami, tapi sesuai komunikasi kami dengan para leluhur disini," jelas Rinto Taroreh salah satu tonaas adat Tonsea yang dipercayakan memimpin ritual tersebut.

Lewat adat itulah kata Tonaas, kemudian tim adat yang sudah ditunjuk untuk pencarian menemukan ada 17 Waruga dalam keadaan sudah tidak utuh lagi tersebar dibeberap tempat lokasi tersebut.

"Ada beberapa faktor yang menyebabkan kerusakan waruga diprediksi telah ada sekitar 1902 tahun lalu itu, karena proses alam dan penjarahan besar-besaran di zaman Permesta (bukan dilakukan oleh Permesta), dan pencurian pusaka Purbalaka di tahun 1970-an. Waruga terlihat tanpa memiliki motif seperti waruga-waruga lain pada umumnya. Dan dari waruga inilah kami memprediksi asal usul Airmadidi bermula dari sini," kata Tonaas.

Dalam upaya memindahkan Waruga lanjut Tonaas, ada dua yang tak dapat dipisahkan, yaitu miliki hati harus bersih dan tulus, kemudian harus tau cara memindahkan. 

"Biar hati bersih tapi tak tau cara, atau sebaliknya, tau cara tapi hati tidak bersih alias tidak tulus, akan membawa bahaya bagi siapa saja yang terlibat dalam ritual tersebut," ujar Taroreh.

Sementara tokoh masyarakat juga tokoh adat Hermanus Dendeng yang didaulat sebagai petuah adat di wilayah Tonsea mengatakan, dasar dari manusia ada dari waruga.

"Karena sudah ada waruga, berarti manusia ada sebelum ada waruga itu. Sampai detik ini, mereka belum menetapkan atau membicarakan kapan lahirnya airmadidi," ujar Dendeng mempertanyakan.

Dendeng berharap, lewat Ormas adat Mapatu dapat mengusulkan hari lahirnya Airmadidi kepada pemerintah dan mengusulkannya lewat pembahasan DPRD, agar nama Kumelembuay sebagai adat dimasukkan dalam sejarah desa.

"Kita cari jalan keluar dan bermusyawarah dengan tokoh adat tonsea lainnya, kemudian sepakati bersama kapan berdirinya airmadidi. Mengingat Airmadidi sudah terbagi dalam beberapa kelurahan, sehingga sebagai masukan hari kelahirannya dibilkin satu. Agar generasi selanjutnya tahu sejarah dan tahu bahwa orang dulu satu," ujarnya

Pemrakarsa pemindahan waruga-waruga Maklentuay, Stenly Lengkong sekaligus Ketua Adat Mapatu mengaku sangat bersyukur karena para sesepuh dan leluhur, setuju dipindahkan tanpa ada penolakan sekecilpun.

"Lewat komunikasi spiritual, kami jelaskan kepada para leluhur bahwa upacara memindahkan dan memperbaiki Waruga ini demi melestarikan cagar budaya leluhur yang memiliki nilai sejarah dan historis yang tinggi. Mereka setuju namun berpesan, agar supaya kelestarian tersebut diwariskan sampai ke anak-cucu," ujar Lengkong bersemangat.

Turut hadir dalam relokasi waruga-waruga itu, Ketua DPRD Minut, Berty Kapojos, Anggota DPRD Minut Joseph Dengah dan Fredrik Runtuwene. Selain itu dari Pemkab Minut sendiri hadir Camat Airmadidi, Lurah Airmadidi, Lurah Rap-Rap dan Lurah Airmadidi Atas.

Disamping pemerintah juga turut mengawal dari Polsek Airmadidi, Koramil Airmadidi dan Reskrim Polres Minahasa Utara, disaksikan ratusan masyarakat Aurmadidi atas, Airmadidi Bawah, Rap-Rap, Sarongsong Satu, Sarongsong Dua, dan warga Desa Sawangan.(Melky)