Warga Keturunan Nusa Utara Di Minut Pesta Adat

Airmadidi, 1/2 (CK RSR) - Warga keturunan nusa utara di Minahasa Utara gelar pesta adat Tulude (Pisah Tahun) sebagai wujud ucapan syukur.

Sejumlah warga keturunan nusa utara yang tersebar diberbagai desa di Minahasa Utara, masing-masing menggelar pesta adat dengan symbolis potong tamo (kue adat), Rabu.

Seperti halnya Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Minahasa Utara Meydi Reppi Kumaseh menghadiri gelaran budaya tutup tahun Tulude yang berlangsung di Desa Makalisung Kecamatan Kema, Rabu (31 Januari 2018).

"Pelaksanaan Tulude di Desa Makalisung, khususnya di pantai Mangket adalah bagian dari pelestarian adat budaya Nusa Utara, yang dilakukan masyarakat yang telah tinggal dan menetap di desa ini. Tentunya ini harus diapresiasi, karena positif untuk kelestariannya," ujar Kumaseh.

Di desa lainnya Desa Sawangan Kecamatan Airmadidi tak seperti biasanya menggelar pesta adat Tulude. Dimana mayoritas masyarakat tersebut berdarah Tonsea ikut memeriahkan acara tersebut.

Hukum Tua  Stendry Wangke mengungkapkan bahwa ternyata ada rukun Nusa Utara berjumlah 172 jiwa di Desa Sawangan yang merupakan keturunan "orang Sangir" hasil dari kawin mawin dan menetap lama di Wanua Sawangan.

"Gelaran ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan budaya leluhur tanpa melupakan esistensinya sebagai warga Desa Sawangan. Di tambah lagi, akan di adakan pagelaran seni dan budaya di cagar wisata Waruga setiap malam purnama, yang bakal menampilkan seni peninggalan leluhur, termasuk budaya Nusa Utara" ungkap Wangke.

Menurut ketua Panitia sekaligus ketua rukun Nusa Utara Drs Tommy Tamangunde bahwa agenda ini akan dilakukan setiap tahun, sehingga tidak hanya melestarikan budaya leluhur, tapi juga bisa menarik wisatawan yang datang di Minahasa Utara.

"Tulude juga selain sebagai perayaan menyambut tahun baru, di maksudkan juga untukeninggalkan segala perbuatan tidak baik di tahun sebelumnya dan menyambut tahun baru dengan sukacita.  Selain itu juga di maksudkan untuk menghormati pimpinan atau pemerintah, dalam hal ini kepala desa," (Yofian/redaksi)