Lotulung : Pacuan Sapi Tidak Dilirik Pemkab Minut

Airmadidi (23/3) CK RSR - Kegiatan Pacuan Roda Sapi yang sudah dilakukan turun temurun oleh masyarakat Sulawesi Utara khususnya Minut rupanya tidak dianggap oleh Pemkab Minahasa Utara. Ini terbukti dengak tidak adanya alokasi dana  APBD untuk mendukung warisan budaya dan wisata ini.

Menurut pemerhati budaya sekaligus wakil ketua Persatuan Olahraga Pacuan Sapi (Pordasap) Minahasa Utara Winovel Lotulung, sangat disayangkan mengingat Minahasa Utara merupakan daerah dengan peminat dan peternak sapi pacu di Sulawesi Utara.

"Pacuan sapi meruoakan salah satu ikon budaya Sulut. Sungguh disayangkan kabupaten lain melestarikan dan mendukung olahraga tradisional ini sedangkan Minut tutup mata. Seharusnya sesuai dengan salah satu Visi kepemimpinan VAP-JO yaitu pariwisata, pemerintah bisa memaksimalkan setiap potensi wisata di Minahasa Utara" ungkap Lotulung yang merupakat aktivis muda Minut.

Menurut Lotulung, dari tahun 2012 sampai 2016 pemkab Minahasa Utara melalui Dinas Pariwisata memang mengalokasikan dana untuk olahraga ini. Namun memasuki tahun 2017 sama sekali tidak ada dana untuk mendukung kegiatan ini.

Seperti diketahui, arena pacuan sapi yang ada di Minahasa utara merupakan tanah milik warga . Sedangkan keutungan para peternak sapi pacu bisa sampai berpuluh puluh kali lipat jika sapi tersebut sering menang. Dari harga sapi daging 10-15 juta, jika sapi tersebut menang dalam olahraga pacu sapi maka harganya bisa menyentuh 100 juta per ekor.

"Kami selaku pecinta dan peternak sapi pacu tidak mengharapkan topangan 100 persen dari pemerintah. Kami hanya minta di sediakan lahan resmi yang hanya berukuran 20x400 meter agar bisa menyalurkan kegiatan ini. Kami siap bergotongroyong untuk dapat membangun gedung permanen agar kegiatan ini bisa terlaksana di tempat yang representatif" ujar Lotulung.

Saat awak media ingin melakukan konfirmasi kepada dinas terkait, Kepala Dinas Pariwisata Minahasa Utara Theodora Luntungan sedang tidak berada di tempat. " Beliau sedang keluar" ujar salah satu pegawai. (Yofian)