Produksi Ikan Bitung Mulai menurun

Bitung (14/12), CK RSR - Ibarat penyakit kanker, kondisi perusahaan pengolah ikan di Kota Bitung produksinya menurun bahkan masuk stadium empat atau kian parah dengan berbagai persoalan komplikasi.
Hal tersebut diakibatkan Permen 56, 57 Kementerian Kelautan dan Perikanan hingga kini belum dicabut sehingga berdampak pada menurunnya perekonomian di Kota Cakalang serta 360 kapal penangkap ikan tidak bisa beroperasi.
Anjuran Menteri Susi Pudjiastuti kepada perusahaan Unit Pengolah Ikan (UPI) agar melakukan produksi ikan lokal seperti ikan Tude, ikan Malalugis, ikan Kembung dan ikan Deho supaya kelesuhan managemen bisa teratasi.
Ketua UPI Kota Bitung Basmi Said kepada sejumlah wartawan Rabu (14/12) mengakui bahwa pabrik ikan bisa memproduksi ikan Deho atau ikan malalugis tetapi ikan jenis ini memiliki tekstur lembek tidak berserat dibanding ikan pelagis jenis baby Tuna (Madidihang) dan ikan Cakalang.
"Sementara dari produksi yang ada saat ini  mengalami penurunan drastis dari kapasitas produksi normal 1.414 ton perhari dan sekarang tinggal 6,3 persen atau 70-90 ton perhari," ujar Said.
Ia mengatakan biaya operasional perusahaan makin tinggi dipengaruhi pemadaman listrik dari pihak PLN sehingga agar memperlancar produksi terpaksa harus menyediakan BBM lebih banyak untuk pengisian motor generator set (Genset).
"Empat bulan terakhir sebagian besar perusahaan UPI mengeluarkan biaya listrik mencapai Rp.300 juta perbulan," katanya.
Demikian Said memohon Pemerintah secepatnya memberikan solusi kepada perusahaan penangkap ikan supaya UPI di Kota Bitung tahun 2017 tidak terancam gulung tikar.  

 

Adapun ketujuh perusahan UPI adalah PT.Delta Pasific Indo Tuna,PT. Samudera Mandiri Sentosa, PT.Sinar Pure Food International, PT.International Alliance Food Indonesia, PT.RD Pacific International, PT.Carvina Trijaya Makmur dan PT.Deho Canning Co.(dona)