Minut Siap Menjadi 100 Smart City

Jakarta, Cahaya Kawanua - Kabupaten Minahasa Utara terpilih untuk menjadi salah satu daerah yang dipilih untuk menjadi salah satu dari 100 Smart City yang dicanangkan oleh pemerintah pusat sejak 2017.

Hal ini ditegaskan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dari program Gerakan Menuju 100 Smart City Bupati Minahasa Utara Vonnie Anneke Panambunan melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Ir Jemmy H Kuhu MA di Jakarta, Selasa 8 Mei 2018.

"Awalnya, Kabupaten Minut terpilih menjadi kandidat untuk mengikuti proses assesment di Jakarta. Semoga tahun depan, kami boleh masuk dalam jajaran smart city. Pemilihan kabupaten/kota untuk mengikuti kegiatan ini dilakukan melalui seleksi dengan melihat berbagai parameter, seperti kondisi keuangan daerah, peringkat dah status kinerja penyelenggara pemerintah daerah berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri, serta indeks Kota Hijau yang diterbitkan Kementerian PUPR" ujar Kuhu.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan mengatakan, pemanfaatan teknologi ini seiring mulai tumbuh pesatnya pengguna internet di Indonesia. Penandatanganan ini menandai dimulainya rangkaian kegiatan yang bertujuan mendorong pemanfaatan teknologi dalam menjawab permasalahan sekaligus mendorong potensi di daerah masing-masing.

“Dengan melakukan digitalisasi, maka kita bisa sharing informasi, dimana itu bisa diakses di mana saja melalui gadget maupun aplikasi. Dengan smart city, pemerintah bisa jadi lebih efektif, bisa meningkatkan potensi di daerah, sampai meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Gerakan Menuju Smart City sudah bergulir sejak 2017. Saat itu, 25 kabupaten/kota terpilih untuk mengikuti kegiatan ini. Kemudian bertambah 50 kabupaten/kota tahun 2018, sementara 25 kabupaten/kota lainnya ditargetkan mengikuti kegiatan ini pada tahun depan.” ujar Samuel.

Ditambahkan juga oleh Samuel bahwa dari sisi masyarakatnya terkait dampak dari implementasi smart city, kata Samuel, warga bisa jadi lebih sejahtera, tempat yang ditinggali jadi lebih aman, terutama menciptakan kota nyaman bagi penduduknya.

“Dengan datangnya para kepala daerah pada hari ini, menandatakan komitmen untuk membangun smart city itu adalah kunci. Pemimpin merupakan salah satu faktor yang didukung birokasi yang kuat. Melibatkan juga masyarakat, karena membangun kota jadi smart city tanpa tanpa melibatkan masyarakat, tidak akan terjadi,” tuturnya.

Turut hadir mendampingi Sekda Minut Ir Jemmy Kuhu MA dalam penandatangana nota kesepahaman Gerakan Menuju 100 Smart City ini, Kepala Dinas Kominfo Sammy Rompis dan Kabag Humas Chresto Palandi. (Yofian/adv)

Bupati Minahasa Didaulat Lantik Pengurus KKSU Kaltim

Kaltim 29/1 (CK RSR) - Bupati Minahasa Jantje Sajow didaulat lantik pengurus Kerukunan Keluarga Sulawesi Utara di Tenggarong, Kalimantan Timur, sekaligus memimpin ibadah perayaan natal dan kuncikan tahun 2017, di Gereja GPIB Efata Tenggarong Kabupaten Kutai Kertanegara, Sabtu.

Dalam sambutannya Bupati JWS memberikan apresiasi bagi warga masyarakat asal Sulut yang telah memprakarsai Ibadah dan perayaan Natal dan Kunci Tahun saat ini. Umumnya masyarakat Sulut ini punya tipe pekerja keras, sehingga mereka, selalu sukses dalam aktivitasnya di daerah perantauan.

"Kiranya masyarakat Sulut yang berada di wilayah Kalimantan Timur, akan terus menjaga kebersamaan karena Indonesia ini harus terus kita jaga dan kita semua harus hidup rukun selalu," kata JWS

Bupati JWS mengharapkan agar dapat menjalankan program kerja dengan baik dan terus berkarya dalam pembangunan di Kaltim.

Kegiatan yang dirangkaikan dengan Pelantikan Pengurus Kerukunan Keluarga Sulawesi Utara (KKSU) Provinsi Kalimantan Timur Periode 2018-2023 oleh Bupati JWS ini, diawali dengan laporan Ketua Panitia Dr Jantje Taroreh MM, 

Adapun Pengurus KKSU Kaltim yang dilantik oleh Bupati JWS terdiri dari Ketua Umum Jimmy Tangkulung SS, Ketua Harian Dr Jantje Taroreh MM, Sekretaris Umum Hermando Sumampouw SE, Bendahara Umum Welly Turangan dan para pengurus lainnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut, isteri Walikota Samarinda Syaharie Jaang yang juga selaku Ketua TP PKK Kota Samarinda Ny Puji Setyowati, Dr Stenly Liong dari Kemenag Kabupaten Kukar, Anggota DPRD Provinsi Kaltim Jahya Anja, Anggota DPRD Sulut Billy Lombok SH, para tokoh masyarakat dan tokoh adat Kaltim.

Bahkan Kadis Pemberdayaan Masyarakat Desa Minahasa Djefry Sajow SH, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Minahasa Agustivo Tumundo SE MSi, Kabag Kesra Drs AZ Warouw, Kabag TUP Setda Drs Dolfie Kuron, Camat Mandolang Drs Arthur Palilingan, Camat Tondano Selatan Robert Ratulangi SPd dan ratusan tokoh agama serta masyarakat asal Minahasa di daerah tersebut.(Redaksi)

Damkar Minahasa Unjuk Kebolehan Jamnas Di Ambon

Ambon, (Cahaya Kawanua) - Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) unjuk kebolehan pada Jambore Nasional (Jamnas) sekaligus mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke- 99 Damkar Indonesia di Kota Ambon, Maluku, Senin (26/2).

Dari sekian perlombaan yang diikuti, kontingen Dinas Damkar Minahasa berhasil meraih prestasi yang membanggakan yakni finish paling cepat pada iven Survival Heat tiga dengan total poin 697. 

"Prestasi ini sekaligus membawa kontingen Damkar Minahasa untuk sementara berada pada peringkat 8 dari 23 peserta se-Indonesia," ujar Kepala Dinas Damkar Kabupaten Minahasa, Alexander W Mamesah lewat siaran persnya.

Tak hanya mengikuti kegiatan pembukaan, kontingen Dinas Damkar Minahasa yang hadir dalam kegiatan nasional itu, turut berpartisipasi aktif dengan mengikuti sejumlah perlombaan yang telah diagendakan panitia, diataranya ikut serta dalam lomba Skill Competition.

"Pada intinya Dinas Damkar Mihahasa bersyukur karena boleh ikut serta dalam kegiatan nasional ini. Harapan kami, kegiatan ini boleh bermanfaat sekaligus memotivasi pegawai Damkar Minahasa untuk kedepan semakin meningkatkan kinerja dan pengabdian kepada masyarakat," ujar Kepala Dinas Damkar Minahasa dalam yang memimpin langsung kontingen Minahasa dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan akbar tersebut dibuka oleh Dir Managemen Penanggulangan Bencana dan Kebakaran, Drs Elvius Dailami, M.Si serta dihadiri Walikota Ambon, mewakili Gubernur Maluku dan Forkopimda Ambon.(Melky)

Baca Eksepsi Sambil Menangis, Ini isi Lengkap Nota Pembelaan Ahok

JAKARTA, CK— Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok langsung memberikan eksepsi atau nota pembelaan menanggapi dakwaan tim Jaksa Penuntut Umum dalam persidangan perdana kasus dugaan penistaan agama Selasa (13/12).

Ini isi lengkap Eksepsi Ahok

Bapak Ketua Majelis Hakim, dan Anggota Majelis Hakim yang saya muliakan,

 Sdr. Jaksa Penuntut Umum yang saya hormati,

Penasihat Hukum dan Para Hadirin yang saya hormati,

Pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Majelis Hakim atas kesempatan yang diberikan kepada Saya.

Berkaitan dengan persoalan yang terjadi saat ini, di mana saya diajukan di hadapan sidang, jelas apa yang saya utarakan di Kepulauan Seribu bukan dimaksudkan untuk menafsirkan Surat Al-Maidah 51 apalagi berniat menista agama Islam, dan juga berniat untuk menghina para ulama.

Namun, ucapan itu, saya maksudkan untuk para oknum politisi yang memanfaatkan Surat Al-Maidah 51, secara tidak benar karena tidak mau bersaing secara sehat dalam persaingan Pilkada.

Ada pandangan yang mengatakan bahwa hanya orang tersebut dan Tuhan-lah, yang mengetahui apa yang menjadi niat pada saat orang tersebut mengatakan atau melakukan sesuatu. Dalam kesempatan ini di dalam sidang yang sangat Mulia ini, saya ingin menjelaskan apa yang menjadi niat saya pada saat saya berbicara di Kepulauan Seribu tersebut.

Dalam hal ini, bisa jadi tutur bahasa saya yang bisa memberikan persepsi, atau tafsiran yang tidak sesuai dengan apa yang saya niatkan, atau dengan apa yang saya maksudkan pada saat saya berbicara di Kepulauan Seribu.

 Majelis Hakim yang saya muliakan.

Ijinkan saya untuk membacakan salah satu Sub-judul dari buku saya, yang berjudul "Berlindung Dibalik ayat suci" ditulis pada tahun 2008. Saya harap dengan membaca tulisan di buku tersebut, niat saya yang sesungguhnya bisa dipahami dengan lebih jelas, isinya sebagai berikut, saya kutip:

 Selama karir politik saya dari mendaftarkan diri menjadi anggota partai baru, menjadi ketua cabang, melakukan verifikasi, sampai mengikuti Pemilu, kampanye pemilihan Bupati, bahkan sampai Gubernur, ada ayat yang sama yang saya begitu kenal digunakan untuk memecah belah rakyat, dengan tujuan memuluskan jalan meraih puncak kekuasaan oleh oknum yang kerasukan “roh kolonialisme”.

 Ayat ini sengaja disebarkan oleh oknum-oknum elit, karena tidak bisa bersaing dengan visi misi program, dan integritas pribadinya. Mereka berusaha berlindung dibalik ayat-ayat suci itu, agar rakyat dengan konsep “seiman” memilihnya.

 Dari oknum elit yang berlindung dibalik ayat suci agama Islam, mereka menggunakan surat Almaidah 51. Isinya, melarang rakyat, menjadikan kaum Nasrani dan Yahudi menjadi pemimpin mereka, dengan tambahan, jangan pernah memilih kafir menjadi pemimpin. Intinya, mereka mengajak agar memilih pemimpin dari kaum yang seiman.

Padahal, setelah saya tanyakan kepada teman-teman, ternyata ayat ini diturunkan pada saat adanya orang-orang muslim yang ingin membunuh Nabi besar Muhammad, dengan cara membuat koalisi dengan kelompok Nasrani dan Yahudi di tempat itu. Jadi, jelas, bukan dalam rangka memilih kepala pemerintahan, karena di NKRI, kepala pemerintahan, bukanlah kepala agama/Imam kepala. Bagaimana dengan oknum elit yang berlindung, dibalik ayat suci agama Kristen? Mereka menggunakan ayat disurat Galatia 6:10. Isinya, selama kita masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Saya tidak tahu apa yang digunakan oknum elit di Bali yang beragama Hindu, atau yang beragama Budha. Tetapi saya berkeyakinan, intinya, pasti, jangan memilih yang beragama lain atau suku lain atau golongan lain, apalagi yang ras nya lain. Intinya, pilihlah yang seiman/sesama kita (suku, agama, ras, dan antar golongan). Mungkin, ada yang lebih kasar lagi, pilihlah yang sesama kita manusia, yang lain bukan, karena dianggap kafir, atau najis, atau binatang!

Karena kondisi banyaknya oknum elit yang pengecut, dan tidak bisa menang dalam pesta demokrasi, dan akhirnya mengandalkan hitungan suara berdasarkan se-SARA tadi, maka betapa banyaknya, sumber daya manusia dan ekonomi yang kita sia-siakan. Seorang putra terbaik bersuku Padang dan Batak Islam, tidak mungkin menjadi pemimpin di Sulawesi. Apalagi di Papua. Hal yang sama, seorang Papua, tidak mungkin menjadi pemimpin di Aceh atau Padang.

Kondisi inilah yang memicu kita, tidak mendapatkan pemimpin yang terbaik dari yang terbaik. Melainkan kita mendapatkan yang buruk, dari yang terburuk, karena rakyat pemilih memang diarahkan, diajari, dihasut, untuk memilih yang se-SARA saja. Singkatnya, hanya memilih yang seiman (kasarnya yang sesama manusia).

Demikian kutipan dari buku yang saya tulis tersebut.

Majelis Hakim yang saya muliakan.

Dalam kehidupan pribadi, saya banyak berinteraksi dengan teman-teman saya yang beragama Islam, termasuk dengan keluarga angkat saya almarhum Haji Andi Baso Amier yang merupakan keluarga muslim yang taat.

Selain belajar dari keluarga angkat saya, saya juga belajar dari guru-guru saya, yang taat beragama Islam dari kelas 1 SD Negeri, sampai dengan kelas 3 SMP Negeri. Sehingga sejak kecil sampai saat sekarang, saya tahu harus menghormati ayat-ayat suci Alquran. Jadi saya tidak habis pikir, mengapa saya bisa dituduh sebagai penista Agama Islam.

Saya lahir dari pasangan keluarga non-muslim, Bapak Indra Tjahaja Purnama dan Ibu Buniarti Ningsih (Tjoeng Kim Nam dan Bun Nen Caw), tetapi saya juga diangkat sebagai anak, oleh keluarga Islam asal Bugis, bernama Bapak Haji Andi Baso Amier dan Ibu Hajjah Misribu binti Acca. Ayah angkat saya, Andi Baso Amier adalah mantan Bupati Bone, tahun 1967 sampai tahun 1970, beliau adik kandung mantan Panglima ABRI, Almarhum Jenderal TNI (Purn) Muhammad Jusuf.

Ayah saya dengan ayah angkat saya, bersumpah untuk menjadi saudara sampai akhir hayatnya.

Kecintaan kedua orangtua angkat saya kepada saya sangat berbekas, pada diri saya, sampai dengan hari ini.

Bahkan uang pertama masuk kuliah S2 saya di Prasetya Mulya dibayar oleh kakak angkat saya, Haji Analta Amir.

Saya seperti orang yang tidak tahu berterima kasih, apabila saya tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua dan kakak angkat saya yang Islamnya sangat taat.

Saya sangat sedih, saya dituduh menista agama Islam karena tuduhan itu, sama saja dengan mengatakan saya menista orang tua angkat dan saudara-saudara angkat saya sendiri, yang sangat saya sayangi, dan juga sangat sayang kepada saya. Itu sebabnya ketika Ibu angkat saya meninggal, saya ikut seperti anak kandung, mengantar dan mengangkat keranda beliau, dari ambulans sampai ke pinggir liang lahat, tempat peristirahatan terakhirnya, di Taman Pemakaman umum Karet Bivak.

Sampai sekarang, saya rutin berziarah ke makam Ibu angkat, di Karet Bivak. Bahkan saya tidak mengenakan sepatu atau sendal saat berziarah, untuk menghargai keyakinan dan tradisi orang tua dan saudara angkat saya itu.

Yang membuat saya juga selalu mengingat almarhumah Ibu angkat saya, adalah peristiwa, pada saat saya maju, sebagai calon wakil Gubernur  DKI Jakarta tahun 2012.

Pada hari pencoblosan, walaupun Ibu angkat saya, sedang sakit berat dalam perjalanan ke rumah sakit, dengan menggunakan mobil kakak angkat saya Haji Analta, ibu angkat saya, sengaja, meminta mendatangi tempat pemungutan suara untuk memilih saya. Padahal kondisinya sudah begitu kritis.

Dari tempat pemungutan suara, barulah beliau langsung, menuju ke rumah sakit, untuk perawatan lebih lanjut di ICU.

Setelah dirawat selama 6 (enam) hari, Ibu berdoa dan berkata kepada saya dan masih terus saya  ingat dan masih akan saya ingat, kata beliau, "saya tidak rela mati sebelum kamu jadi menjadi gubernur. Anakku, jadilah gubernur yang melayani rakyat kecil".

Ternyata Tuhan mengabulkan doa Ibu angkat saya. Beliau berpulang tanggal 16 Oktober 2014, setelah ada kepastian Bapak Jokowi menjadi Presiden, dan saya juga sudah dipastikan menjadi Gubernur, menggantikan Bapak Jokowi. Pesan dari Ibu angkat saya selalu saya camkan , dalam menjalankan tugas saya, sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Majelis Hakim yang saya muliakan.

Sebelum menjadi pejabat, secara pribadi, saya sudah sering menyumbang untuk pembangunan mesjid di Belitung Timur, dan kebiasaan ini, tetap saya teruskan saat saya menjabat sebagai Anggota DPRD Tingkat II Belitung Timur, dan kemudian sebagai Bupati Belitung Timur.

Saya sudah menerapkan banyak program membangun masjid, musalah dan surau, dan bahkan merencanakan membangun pesantren, dengan beberapa kiai dari Jawa Timur.

Saya pun menyisihkan penghasilan saya, sejak menjadi pejabat publik minimal 2,5% untuk disedekahkan yang di dalam Islam, dikenal sebagai pembayaran zakat, termasuk menyerahkan hewan qurban atau bantuan daging di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Saya juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan, termasuk untuk menggaji guru-guru mengaji, dan menghajikan penjaga masjid/musala (marbot atau muadzin) dan penjaga makam.

Hal-hal yang telah saya lakukan di Belitung Timur, saat menjabat sebagai bupati, saya teruskan ketika tidak menjadi bupati lagi, sampai menjadi anggota DPR RI daerah pemilihan (dapil) Bangka Belitung, sebagai Wakil Gubernur dan juga, sebagai Gubernur DKI Jakarta saat ini pun tetap saya lakukan.

Ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta, saya juga membuat banyak kebijakan, di antaranya kebijakan agar di bulan suci Ramadhan, para PNS dan honorer, bisa pulang lebih awal, dari aturan lama jam 15.00 WIB saya ubah menjadi jam 14.00 WIB, agar umat muslim dapat berbuka puasa bersama keluarga di rumah, shalat magrib berjamaah, dan bisa tarawih bersama keluarganya.

Saya juga ingin melihat Balaikota mempunyai masjid yang megah untuk PNS, sehingga bisa melaksanakan ibadahnya, ketika bekerja di Balaikota. Karena itu, Pemda membangun Masjid Fatahillah di Balaikota.

Di semua rumah susun (rusun) yang dibangun Pemda juga dibangun masjid. Bahkan di Daan Mogot, salah satu rusun yang terbesar, kami telah membangun masjid besar dengan bangunan seluas 20.000 meter persegi agar mampu menampung seluruh umat muslim yang tinggal di rusun Daan Mogot. Kami jadikan masjid tersebut sebagai salah satu masjid raya di Jakarta.

Kami akan terus, membangun masjid raya/besar, di setiap rusun, kami akan terus membantu perluasan masjid yang ada, dengan cara Pemda akan membeli lahan yang ada di sekitar masjid, sebagaimana beberapa kali telah saya sampaikan dalam pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam maupun pengurus Dewan Masjid Indonesia di Balaikota.

Para marbot dan penjaga makam juga Pemda umrohkan. Kami juga membuat kebijakan bagi PNS, menjadi pendamping haji kloter DKI Jakarta.

Saya berharap bisa melaksanakan amanah orangtua dan orangtua angkat saya untuk melanjutkan tugas saya sebagai Gubernur di periode yang akan datang, sehingga cita-cita saya untuk memakmurkan umat Islam di Jakarta dapat terwujud. 

Majelis Hakim yang saya muliakan.

Saya berani mencalonkan diri sebagai Gubernur, sesuai dengan amanah yang saya terima dari almarhum Gus Dur, bahwa Gubernur itu bukan pemimpin tetapi pembantu atau pelayan masyarakat.

Itu sebabnya, dalam pidato saya setelah pidato almarhum Gus Durpada tahun 2007, saya juga mengatakan bahwa menjadi calon Gubernur, sebetulnya saya melamar untuk menjadi pembantu atau pelayan rakyat.

Apalagi, saya melihat adanya fakta, bahwa ada cukup banyak partai berbasis Islam, seperti di Kalimantan Barat, Maluku Utara, dan Solo juga mendukung calon Gubernur, Bupati, Walikota non-Islam di daerahnya.

Untuk itu, saya mohon ijin kepada Majelis Hakim, untuk memutar video Gus Dur yang meminta masyarakat memilih Ahok sebagai Gubernur saat Pilkada Bangka Belitung tahun 2007, yang berdurasi sekitar 9 (Sembilan) menit.

Majelis Hakim yang saya muliakan.

Saya ini hasil didikan orang tua saya, orangtua angkat saya, ulama Islam di lingkungan saya, termasuk Ulama Besar yang sangat saya hormati, yaitu almarhum Kiai Haji Abdurahman Wahid, yang selalu berpesan, menjadi pejabat publik sejatinya adalah menjadi pelayan masyarakat.

Sebagai pribadi yang tumbuh besar di lingkungan umat Islam, tidaklah mungkin saya mempunyai niat untuk melakukan penistaan agama Islam dan menghina para ulama karena sama saja, saya tidak menghargai, orang-orang yang saya hormati dan saya sangat sayangi.

Majelis Hakim yang saya muliakan.

Apa yang saya sampaikan di atas, adalah kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi. Dan saya juga berharap penjelasan saya ini, bisa membuktikan tidak ada niat saya, untuk melakukan penistaan terhadap Umat Islam, dan penghinaan terhadap para Ulama.

Atas dasar hal tersebut, bersama ini saya mohon, agar Majelis Hakim yang Mulia, dapat mempertimbangkan Nota Keberatan saya ini, dan selanjutnya memutuskan, menyatakan dakwaan Saudara Jaksa Penuntut Umum tidak dapat diterima, atau batal demi hukum. sehingga saya dapat kembali, melayani warga Jakarta dan membangun kota Jakarta.

Majelis Hakim yang Mulia, terima kasih atas perhatiannya. Kepada Jaksa Penuntut Umum, serta Penasehat Hukum, saya juga ucapkan terima kasih.

 Jakarta, 13 Desember 2016

Hormat saya,

(guntur)