Menepuk Air di Dulang, Terpercik Muka Sendiri

Oleh : Franky G. Tangkudung

Saat sedang menyeruput kopi, seorang kawan memperlihatkan aktivitas di grup medsosnya. Sekilas terbaca judul yang diposting sesama anggota grup, tentang “berita baru tapi lama”.

Si Anu mengatakan, si Itu melakukan bla.. bla.. bla…

Ternyata isu yang sempat mengemuka dan membuat banyak orang terhenyak kini mengapung lagi. “Perseteruan” antara top eksekutif dan pucuk yudikatif di salah satu daerah, yang sempat menjadi trending topic di beberapa rumah kopi, juga sempat membelah publik, kubu yang membela A dan satunya berpihak ke B, kini memanas lagi.   

Kejadian ini berawal dari niat salah satu lembaga yang melaksanakan tugasnya, dengan mencari berkas terkait pejabat yang sudah ditersangkakan. Namun dengan dalih “dorang nda baku hormat” muncullah perlawanan dari top eksekutif. Lanjutnya, bisa ditebak. Proses tersebut tidak berjalan lancar.

Keanehan bertambah, lebih tepat disebut lucu, ketika yang turut menjadi penentang justru datang dari lembaga masyarakat yang selama ini, katanya, menjadi garda terdepan pemberantasan korupsi. Hmmmm…

Memang pada akhirnya terjadi pemeriksaan, pencarian berkas yang terkait untuk menunjang penyidikan dan penyelidikan meski harus ada “pengawalan” dari perwakilan top eksekutif tersebut.  

Setelah itu, mudah diterka…  berbagai opini antara pembela kubu A dan pendukung kubu B berseliweran saling berbalas di Medsos, kantin, rumah kopi bahkan di dego-dego. Parahnya, bahkan memalukan- mungkin juga khilaf- beberapa oknum pewarta mulai “terjebak” dengan pemberitaan yang tendensius. Kemudian muncullah informasi tentang tiket, jatah, dan sebagainya. Hal yang sebelumnya tak diketahui publik kini telanjang nan vulgar demi counter attack ala Mourinho.

Perlahan, perang opini pembelaan dua kubu mereda dan bless... hilang… Beragam argumen yang sebelumnya gencar antara yang memihak A dan membela B,  akhirnya mereda. “Ada arahan, kaseh todoh dulu” atau “Cooling down jo kata”… begitu kata mereka.

Kenyataan ini, mungkin bagi sebagian orang yang mafhum menjadi parodi yang bisa membuat menggeleng-gelengkan kepala, mengernyitkan dahi, bahkan terbahak sampai berguling-guling. Anak zaman sekarang menyingkatnya ROTFL dalam chat lebay mereka, lengkap dengan emoticonnya.

Sekarang… mari masuk ke bagian seriusnya, kita lihat dasar hukumnya.

Dalam UU KUHAP Pasal 33 ayat 1 dijelaskan,

Dengan surat izin ketua pengadilan negeri setempat penyidik dalam melakukan penyidikan dapat mengadakan penggeledahan rumah yang diperlukan.

Mungkin pasal ini yang menjadi pegangan sang top eksekutif membenarkan argumennya. Tapi bukankah di pasal selanjutnya tertuang gamblang?

Pada pasal 34 ayat 1 ditegaskan,

DALAM KEADAAN YANG SANGAT PERLU DAN MENDESAK BILAMANA PENYIDIK HARUS SEGERA BERTINDAK DAN TIDAK MUNGKIN UNTUK MENDAPATKAN SURAT IZIN TERLEBIH DAHULU, DENGAN TIDAK MENGURANGI KETENTUAN PASAL 33 AYAT (5) PENYIDIK DAPAT MELAKUKAN PENGGELEDAHAN:

A. PADA HALAMAN RUMAH TERSANGKA BERTEMPAT TINGGAL, BERDIAM ATAU ADA DARI YANG ADA DI ATASNYA;

B. PADA SETIAP TEMPAT LAIN TERSANGKA BERTEMPAT TINGGAL, BERDIAM ATAU ADA;

C. DI TEMPAT TINDAK PIDANA DILAKUKAN ATAU TERDAPAT BEKASNYA; DI TEMPAT PENGINAPAN DAN TEMPAT UMUM LAINNYA.

Hal ini jelas menjadi kartu truf pucuk yudikatif untuk membenarkan langkah yang ditempuh bersama jajarannya.

====

Kini, perseteruan yang dipertontonkan ke publik tak elok lagi. Kekompakan selama ini yang  terjalin dalam FORKORPIMDA hilang tak berbekas, meski sempat terjadi rekonsiliasi di sebuah acara. Saling membuka aib menjurus fitnah- karena belum terbukti kebenarannya- membuat masyarakat jemu. Masyarakat sudah terlalu pintar untuk menilai, banyak parameter untuk melihat kinerja kedua pihak. Mereka tahu mana yang tulus mana yang bermuatan.

Genderang perang sudah terlanjur ditabuh, “gencatan senjata” yang sempat terjadi ternyata tak permanen. Kotak Pandora juga sudah terbuka seutuhnya. Pihak A memulai serangan kembali, pastinya pihak B dengan amunisinya akan mempertahankan wibawanya.

Terlepas dari itu, kebenaran akan tuduhan itu perlu ditelisik lebih lanjut. Jika terbukti jelas akan ada konsekwensinya, pasti ada tindakan tegas dari atasan sesuai hierarki, seperti yang digaungkan Presiden dalam reformasi hukum. Karena kini memang era berbenah, membersihkan yang kotor.

Namun…. jangan sampai seperti pepatah,

Menepuk Air di Dulang, Terpercik Muka Sendiri

Bisa jadi itu menjadi bumerang untuk menyerang diri sendiri.

===

Akhirnya, untuk menjadi renungan bersama, dari sebuah perseteruan,

Kalah jadi abu, menang jadi arang,

jika begitu masyarakat entah menjadi apa…

Mungkin kita juga mulai lupa dengan slogan yang sudah “diganti”

Torang Samua Basudara… Kong baku-baku bae deng baku-baku sayang…

Salam Redaksi…

 

Ket:

Medsos : Media Sosial

ROTFL : Rolling On The Floor Laughing

KUHAP : Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

FORKORPIMDA : Forum Koordinasi Pimpinan Daerah

 

 

Kesehatan

AQ Suatu Hal Penting Bagi Kece...
IMAGE Minut (Cahaya Kawanua) - Sering kita mendengar istilah IQ, EO, SQ tetapi ada lagi yang muncul yang tidakkalah pentingnya dalam kontribusinya pada IQ...

Lifestyle

Xiaomi Mulai Debut Magical Mi ...
IMAGE TEKNOLOGI, CK - Xiaomi merupakan salah satu merek gadget yang lagi booming saat ini, dengan spesifikasi gadget yang lumayan tinggi untuk range harga...

Traveling

Tinutuan, Sederhana tapi Kaya ...
IMAGE Tinutuan atau Bubur Manado merupakan salah satu makanan khas Indonesia yang berasal dari daerah dari Manado, Sulawesi Utara. Namun ada juga yang...